Berbagi Catatan... Berbagi Pengetahuan



Thursday, June 30, 2011
Legamnya Cubluk Batu Kapur Ciampea

Di pabrik pembakaran kapur yang sederhana, bertiang bambu dan berlegam debu, Pak Jumli sedang merapikan tumpukan ban mobil bekas, mengambil satu per satu dari gudang penyimpanan lalu disusun rapi dekat tungku perapian.  Ban mobil bekas adalah pilihan bahan bakar utama pembakaran batu kapur.  Tungku pembakaran miliknya kini sedang menyala. Menyiratkan harapan untuk melanjutkan hidup esok hari. Akankah tungku ini dapat terus menyala ?


Foto 1.  Pak Jumli, salah satu pemilik cubluk batu kapur


Suatu pagi yang cerah saya bersama istri mengisi liburan tanggal merah untuk mengunjungi sebuah bukit kapur yang menjulang di Desa Ciampea, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.  Bukit yang sering disebut masyarakat sebagai bukit Cibodas ini dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan darat dengan kendaraan pribadi dari Kota Bogor.  Pilihan rute yang dapat dilalui diantaranya melewati jalan Kota Bogor- Merdeka - Laladon - Kampus IPB Darmaga - Ciampea. 

 

Setelah menemukan kantor Polsek Ciampea, anda bisa belok kiri menyusuri jalan beraspal.  Di sebelah kiri pandangan mata akan tampak semakin dekat dengan bukit kapur tersebut, ambilah jalan ke kiri saat menemukan pertigaan di dekat sebuah masjid.   Tidak begitu jauh, pabrik-pabrik pembakaran batu kapur sudah terlihat.  Aroma belerang dari kepulan asap sudah dapat tercium.  Teruskanlah perjalanan anda menyusuri jalan tanah berkapur menuju kaki bukit.


foto 2.  Bukit Kapur Cibodas, Ciampea, Kab. Bogor


Bukit kapur ini telah ditambang oleh masyarakat secara tradisional maupun oleh perusahaan pertambangan dengan skala yang lebih besar.  Batu kapur yang telah dibakar, terutama dimanfaatkan untuk bahan bangunan, baik untuk kebutuhan lokal di Bogor maupun dibawa ke luar kota seperti Cilegon.

 

Pak Jumli memunyai satu pabrik pembakaran batu kapur tradisional, orang lokal menyebutnya cubluk, yang telah diusahakan selama 9 tahun.  Cubluk inilah yang menghidupi keluarganya bertahun-tahun, juga menyerap beberapa warga lainnya sebagai buruh pembakar kapur.  Di dalam cubluk, terdapat tungku pembakaran yang berbentuk bulat, berdiameter lebih kurang 2.5 meter dan tinggi 3 meter.   Tungku Pak Jumli adalah satu dari 26 tungku yang ada di sekitar wilayahnya.

 

Tungku dibuat dengan tanah yang disusun menjadi seperti sumur dengan bibir yang tebal, di bagian luar diperkuat dengan ikatan bambu.  Setiap kali selesai pembakaran, tungku harus diperbaiki, yaitu dengan menambal dinding yang retak dengan lumpur tanah.  Pada salah satu dasar tungku, terdapat lubang untuk memasukkan api dan bahan bakar. 


foto 3.  Proses pembakaran batu kapur

 

Proses perapian dibantu dengan menggunakan blower, sehingga api akan terus menyala ke segala arah dengan tekanan yang kuat.  Proses pembakaran batu kapur dilakukan selama 3 hari 3 malam non stop. Api harus terus menyala, agar batu kapur terbakar sempurna dan merekah.  Menurut Pak Jumli, tungkunya dapat membakar 39 m3 batu kapur dan akan menghasilkan 50 m3 60 m3 kapur.  Volume kapur hasil pembakaran bukan hanya tergantung dari kualitas batuannya itu sendiri, tetapi juga faktor pengapian.  Untuk itu dari 4 buruh bakar, Pak Jumli membaginya menjadi dua kelompok dan bekerja secara shift selama tiga hari tiga malam.  Upah bakar untuk setiap orang sebesar Rp. 50.000 per hari.  Sementara itu, selama pembakaran dibutuhkan 800 ban bekas yang dibeli dengan harga Rp. 4000 per buah.


Foto 4.  Bahan baku pembuatan kapur

 

Pak Jumli mengeluarkan modal Rp. 9 juta untuk sekali proses pembakaran, termasuk pembelian bahan baku batu kapur, upah angkut, bahan bakar, upah bakar, upah mengeluarkan kapur dari tungku.  Harga jual kapur di tempat Rp. 200.000 per m3.  Pak Jumli menjual kapurnya langsung ditempat, karena ia tidak mau repot menjual ke luar dengan menyediakan alat angkut dan sebagainya.  Penghasilan kotor Pak Jumli untuk sekali proses pembakaran berkisar Rp. 10 juta, karena biasanya volume kapur yang dihasilkan sekitar 50 m3.  Sehingga keuntungan bersih sebesar Rp. 1 juta untuk proses selama 3 hari.  Keuntungan ini akan menjadi lebih besar sedikit apabila volume kapur yang dihasilkan meningkat.

 

Wajah yang resah

 

Wajah Pak Jumli legam, selegam cubluknya.  Ia resah dengan masa depan usahanya tersebut.  Bukan saja karena tekanan pelestarian lingkungan, namun juga ia dihadapkan pada status tanah yang secara sah bukan miliknya.  Sebagain besar kawasan gunung kapur adalah tanah negara yang dikelola oleh Perhutani, sebagian lainnya telah berstatus HGU dan diusahakan oleh pihak lain untuk ditanami pepohonan berkayu, seperti Jati.  Sementara warga masyarakat masih diperbolehkan menanam aneka tanaman penghidupan di bagian lain di tanah negara tersebut. Sampai kapan ia akan bertahan ?

 

Gunung Kapur bukanlah hanya seonggok batuan kapur. Ternyata kawasan ini adalah salah satu kawasan karst yang mempunyai nilai ekonomi, ekologi, sosial, dan budaya yang penting.  Secara jelas, kawasan ini menyediakan batuan kapur, kayu bakar dan lahan kelola untuk pertanian.  Identifikasi yang dilakukan oleh Pecinta Alam Lawalata-IPB menemukan bahwa kawasan karst Ciampea terdapat banyak gua, baik vertikal maupun horisontal.  Sistem hidrologi yang rumit dan kompleks juga menjadi bagian dari area ini.  Gua-gua tersebut banyak digunakan sebagai sarang burung walet dan sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.  Nilai budaya juga ditunjukkan dengan masih kentalnya kepercayaan masyarakat terhadap keberaadaan bukit kapur ini, sehingga sering digunakan sebagai acara ritual dan pengobatan tradisional.  Namun demikian, kawasan karts tersebut menghadapi ancaman kerusakan.  Menurut berita di Harian Pikiran Rakyat (Senin, 20 Juni 2011), ada tiga belas ekosistem gua yang di kawasan bukit kapur Ciampea yang terancam punah akibat aktivitas pertambangan batu kapur. 

 

Kami sebenarnya hanya ingin sekedar mengenang suatu masa.  Tahun 2002 kami bersama dengan anggota Lawalata IPB lainnya sering kali berkunjung ke bukit ini untuk melatih fisik, memanjat tebing, dan belajar ekosistem gua.  Bukit ini memang telah menjadi tempat belajar Lawalata-IPB, bahkan sejak dilahirkannya sampai sekarang.  Hari ini, kami mendapat cerita yang lain.  Kami menjadi lebih memahami realita kehidupan. Berdiri diantara kebutuhan pelestarian dan penghidupan.


Foto 5.  Mampir di warung dekat bukit kapur

 

Matahari semakin naik, cuaca makin panas. Kami istirahat sejenak di warung kecil milik Ibu Enah yang rindang di bawah pohon cery.  Menyeruput kopi bersama dengan penambang batu kapur yang lelah bercucur keringat.  Bukit kapur hanya beberapa langkah kaki dari warung kecil ini.  Sementara, bibit pohon penghijauan yang ditanam beberapa pekan lalu tampak segar, sebagian lainnya layu.  Namun tidaklah layu semangat bapak-bapak penambang batu kapur untuk meneruskan kerjanya. Kami hanya berucap " kami belum melakukan apa pun untuk alam dan masyarakat".

 


Posted at 01:09 pm by muslich

aloy
May 24, 2014   10:50 AM PDT
 
Sorry mas bro,kalo pembakaran itu di tutup truz masysrakat nganggur,apa anda mau memenuhi & tanggung jawab atas smua kebutuhan masyarakat sehari"???
Nameoxye
June 7, 2013   03:04 PM PDT
 
merka ada karena tuhan menciptakan mereka klo anda resah tinggalah anda dihutan biar sepi dan gak resah
Name
March 15, 2012   11:59 AM PDT
 
mereka juga manusia yg butuh penghidupan, menutup bukanlah jalan satu2nya agar kamu tidak resah. mereka ada karena ada yang membutuhkan brow
Brimonidine Tartrate
November 3, 2011   11:19 AM PDT
 
It's a very nice blog you share. i am very impress on you. really you done a great job here. Thank you very much..
RUDIYAWAN
August 12, 2011   07:47 PM PDT
 
MAS2 ATAU MBAK2,TOLONG LAH DI EXPOSE PEMBAKARAN BATU KAPUR TSB.
AGAR DITUTUP,KARENA MERESAHKAN MASYARAKAT.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry



muslich
February 20th
Male
Bogor
Blog ini dibuat untuk menceritakan pengalaman-pengalaman perjalanan dan pengetahuan dengan bahasa saya sendiri. Hanya satu harapan, bahwa saya akan selalu bercerita. Karena ternyata, bercerita itu tidaklah mudah.
   

<< June 2011 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


M. Muslich
24 Tahun
Minat : Ekologi, Konservasi



Bumi semakin panas
Bencana kian marak melanda
Manusia tiada berdaya.

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed